Rasa malu merupakan bagian ahlak Nabi SAW yang harus dijadikan
teladan bagi kaum muslimin. Tentang sifat malu Nabi SAW, seorang sahabat besar
bernama Abi Said al Khudri menceritakan :
‘’Adalah Rasulullah SAW sangat tinggi rasa malunya, lebih pemalu
daripada seorang gadis pingitan. Apabila beliau tidak menyenangi sesuatu, kami
dapat mengetahuinya pada wajah beliau’’. (HR
Muslim)
Sifat pemalu, menurut pengertian para ulama, selalu berontak
kepada sifat-sifat tercela, pantang menolak kebenaran dan takut mengkebiri
hak-hak orang lain. Ia selalu cenderung mengikuti seruan petunjuk Nabi yang
dipahami dari hadist-hadistnya. Selalu melakukan kebaikan dan menghargai pelaku
kebaikan. Ia menuntun kepada sikap dan tindakan yang berguna di dalam
masyarakatnya.
Umron bin Hashin RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
‘’sifat pemalu itu tidak
mendatangkan sesuatu apapun kecuali kebaikan’’. (Muttafaq alaihi)
Dan dalam riwayat Muslim, dengan ucapan yang sedikit berbeda:
‘’sifat pemalu itu seluruhnya mengandung
kebaikan’’.
Dari abu Hurairah RA, di riwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
‘’iman itu mempunyai 71 atau 61
cabang, dan yang paling utamanya adalah mengucapkan laa ilaaha illallah (tiada
tuhan kecuali Allah), dan serendah-rendahnya adalah menyingkirkan duri
(gangguan dari jalan). Dan sifat pemalu merupakan satu bagian dari iman’’ (HR
Muttafaq alaih).
Seorang muslim yang benar/jujur selalu mengisi hidupnya dengan
cara terdidik, halus perasaan, tak terbetik dalam hatinya niat untuk melakukan
perbuatan tercela yang dapat mengganggu orang lain, dan tidak pula mengkebiri
hak orng lain.
Yang demikian itu bahwa semua sifat tercela tercela itu dapat
terkubur oleh sifat pemalu. Tidak cukup rasa malu itu hanya tertuju kepada
manusia, tetapi bahkan lebih besar dihadapan Allah. Karena sifat malu itu, dia
tidak berkenan mencampur adukan keimananya dengan kezaliman. Di sinilah jelas
bahwa sifat pemalu merupakan cabang dari iman.
Ikatan moral yang berlandaskan iman kepada Allah dan hari akhir
memungkinkan insan muslim dapat berlaku ihlas secara mendalam, terhadap orang
lain. Keteguhan ahlak inilah yang pada gilirannya kemudian hari dapat merubah
keadaan.
Malunya terhadap Allah terpancar dalam rahasia hatinya, sebelum
muncul rasa malunya terhadap sesama manusia secara lahiriah. Sifat pemalu
terhadap Allah inilah yang membedakan dan sekaligus merupakan garis demarkasi
secara ahlak seseorang muslim dan moral non muslim.
Sumber : APAKAH ANDA BERKEPRIBADIAN MUSLIM. Penulis: Prof. Dr.
Muhammad Ali Hasyimi
0 komentar:
Posting Komentar